Dilema Perikanan

Oki Lukito – suaraPembaca
Jakarta – Indonesia menduduki peringkat keempat produsen perikanan dunia setelah Tiongkok, Peru, dan Amerika Serikat (AS). Produksi perikanan tangkap tahun 2008 tercatat sebesar 4,94 juta ton. Perikanan budi daya 3,08 juta ton serta menyumbang produk domestik bruto (PDB) 2,7 persen. Akan tetapi di Asia posisi Indonesia hanya peringkat keempat sebagai eksportir perikanan setelah Tiongkok, Thailand, dan Vietnam.
Nilai ekspor perikanan Vietnam mampu menembus 3 miliar dolar AS. Sementara ekspor perikanan Indonesia yang memiliki laut dan lahan budi daya lebih luas hanya
2,3 miliar dolar dengan negara tujuan AS, Jepang, dan Uni Eropa.

Salah satu penyebab tidak berkembangnya perikanan nasional adalah pencurian ikan di Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEEI) oleh kapal asing dan kapal berbendera Indonesia tapi milik asing. Perairan rawan pencurian berada di Laut Arafura, Laut Sulawesi, Perairan Teluk Tomini, Laut Banda, Laut Seram, Laut China Selatan, dan Samudera Indonesia.

Setiap hari sedikitnya seribu kapal asing mencuri kekayaan laut kita. Diprediksi kerugiannya mencapai Rp 30 triliun per tahun. Kekayaan laut yang berpotensi menghasilkan devisa 82 miliar dolar AS per tahun itu lebih banyak dinikmati nelayan asing. Ilegal fishing bukan hanya merugikan negara secara finansial tetapi juga menurunkan produktivitas dan hasil tangkapan secara signifikan.

Kerusakan ekosistim yang sudah menjadi fenomena pesisir dan laut turut andil melemahkan produksi perikanan nasional. Sedikitnya tujuh wilayah perairan tercemar berat yaitu Belawan, Tanjung Balai, Batam, Teluk Lampung, Teluk Jakarta, sepanjang pantai utara Jawa, dan Balikpapan.

Pencemaran bersumber dari limbah pabrik, rumah tangga, rumah sakit, tambak, keramba yang dibuang tanpa proses pengolahan memadai. Kerusakan lingkungan diperparah maraknya pembukaan hutan bakau. Gangguan perairan tidak hanya menghambat tumbuhnya usaha budi daya tetapi memicu hengkangnya investor.

Pembuangan limbah tambang emas di Pulau Sumbawa mencemari Pantai Sagena, Labuhan Lalar, Benete, Rantung, Snutuk hingga Tolanang. Akibatnya hasil tangkapan ikan nelayan menurun. Di Pulau Lombok, berdekatan dengan lokasi pembuangan tailing, nelayan Tanjung Luar, dan Pulau Maringik mengalami nasib sama. Di Papua perusahaan tambang emas raksasa membuang tailing, merusak wilayah produktif berupa hutan, sungai, dan lahan basah seluas 120.000 hektar (Ha), hampir dua kali luas Jakarta.

Sementara itu nelayan di sekitar Desa Penago Baru dan Rawa Indah, Kecamatan Ilir Talo, Kabupaten Seluma, Provinsi Bengkulu terancam, akibat pengerukan pasir besi yang sudah belangsung lima tahun. Akibatnya, kawasan pantai yang dahulunya rimbun dengan hijau hutan bakau, seluas 10 Ha, dan merupakan kawasan Cagar Alam Pasar Talo nyaris tidak tersisa. Garis pantainya terancam abrasi akut. Demikian pula di Kabaena Timur, Dongkala perairannya berwarna merah tertutup lumpur penambangan nikel.

Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia Indonesia sejatinya nirwana bagi budi daya perikanan. Potensi budi daya perairan umum meliputi sungai, danau, dan waduk mencapai 13 juta hektar dan baru tergarap 972.250 Ha. Potensi budidaya laut mencapai 8,7 juta Ha baru dimanfaatkan 10 persen. Sementara itu ikan hias air tawar yang potensial dibudidayakan ada 240 jenis dan ribuan jenis ikan hias air laut belum dikembangkan. Suplai ikan hias ke pasar dunia baru 7,5 persen, tertinggal dari Singapura, yakni 22,8 persen.

Kedigdayaan perikanan semakin jauh dari angan akibat minimnya informasi tata cara budi daya yang memadai. Pemuliaan induk ikan kualitas unggul juga belum optimal. Hasil temuan benih unggul dari balai-budidaya belum tersosialisasi secara menyeluruh ke daerah. Di sisi lain kita baru nemiliki satu balai pemuliaan induk udang vanamei di Situbondo Jawa Timur yang perairannya tercemar cairan limbah pabrik pengolahan udang. Sementara kita tidak memilik pemuliaan induk udang windu (peneus monodon), udang lokal yang terabaikan.

Produksi perikanan nasional juga terancam maraknya impor perikanan. Tahun 2008 impor perikanan meningkat dibandingkan tahun 2007. Di tengah tren meningkatnya produk perikanan dari luar negeri kita belum memiliki regulasi untuk mengendalikan impor perikanan. Ketiadaan aturan impor berpotensi membahayakan keamanan pangan konsumen, terganggunya pasar domestik, masuknya hama dan penyakit yang dibawa produk impor.

Kondisi ini jika tidak diwaspadai sangat rawan relebeling dan transhipment. Pemerintah harus menaikkan biaya masuk sehingga dapat meningkatkan posisi tawar produk perikanan lokal. Faktor pengawasan terhadap mutu produk impor perikanan memang lemah sebagian berasal dari negara yang terkena embargo produk perikanan yaitu Tiongkok dan India.

Tahun 2008 volume impor nasional tercatat 280.179,34 ton dengan nilai 268 juta dolar AS. Nilai impor itu naik 68 persen dibandingkan tahun 2007 yang hanya 160 juta dolar AS dengan volume impor 120.000 ton. Di Jawa Timur sebagai barometer perikanan nasional impor perikanan bahkan meningkat 300 persen. Tahun 2007 volume impor perikanan Jawa Timur sebesar 5.869 ton (8.953.699 dolar). Tahun 2008 volumenya membengkak menjadi 23.166 ton (38.319.632 dolar).

Umumnya untuk memenuhi permintaan bahan baku industri pengolahan dan konsumsi dalam negeri. Belum adanya regulasi impor dan rendahnya bea masuk membuat produk ikan impor mengalir deras. Selain ikan patin produk perikanan lainnya yang diimpor dari Vietnam, Thailand, India dan Tiongkok adalah udang beku, tepung ikan, ikan salmon, dan tuna segar serta produk olahan lainnya.

Impor perikanan akan booming seiring diberlakukannya perjanjian perdagangan bebas Asean – Tiongkok pada tahun 2010. Pasar bebas tersebut jika tidak diantisipasi akan menyurutkan pula aktivitas salah satu pewaris budaya bahari yaitu nelayan dan petani tambak.

Oki Lukito,
Direktur Regional Economic Maritime Institute
Ketua Forum MasyarakatKelautan dan Perikanan

(Sumber: Surat Pembaca detikcom)

Tentang elfathir

Saya hanya mencoba berbagi manfaat atas apa yang saya ketahui. Tetaplah Tersenyum, Karena Senyuman Membuat Semua Terasa Indah. *Elfathir Fatikhin*
Pos ini dipublikasikan di Opini. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s