Tetap Panen di Musim Kemarau

Oleh: Widjil Purnomo

KARAWANG – Ketika para petani di sejumlah daerah gusar karena kekurangan air akibat kemarau, H Arqom Kartin justru masih bersemangat. Bersama 17 rekan sekampungnya, petani asal Kampung Gedung Galih, Cariu Mulya, Telaga Sari, Kabupaten Karawang, Jawa Barat ini tetap bisa menanam padi varietas Ciherang.

Ia tak bermaksud melawan keganasan alam yang membuat semua tumbuhan kering meranggas. Tetapi teknologi yang diterapkannya berhasil membuat rumpun padi di atas lahan seluas 20 hektare yang baru berumur 35 hari, menghijau. Berbeda dengan tanaman padi di sekitarnya, padi yang ditanam Arqom terlihat subur. Setiap rumpun berjarak 15-20 cm terdiri 5-6 batang.

Suami Iyet Nurhayati ini memperkirakan, 75-80 hari lagi akan berpesta panen. Bahkan, hasil panen selama lima musim terakhir mencapai 10 ton/hektare gabah kering panen (GKP), melebihi angka produktivitas Karawang yang rata-rata 7 ton/hektare.

“Produksi panen ini masih bisa ditingkatkan lagi menjadi sekitar 15 ton per hektare jika kami menerapkan sistem SRI secara penuh. Selama ini, kami baru menerapkan sistem ini secara bertahap karena masih mencampurnya dengan pupuk kimia,” ungkapnya kepada SH di rumahnya.

Keberhasilan ini tak lepas dari teknologi System of Rice Intensification (SRI), suatu metoda baru dalam budi daya padi yang berbasis bahan organik. Keunggulan sistem ini adalah penggunaan air yang minimal dan tahan terhadap serangan organisme pengganggu tanaman (OPT).

Sistem ini juga ramah lingkungan sehingga dapat mendorong petani untuk memelihara ternak. Di sisi lain, usia panen lebih pendek, hanya 110-115 hari dibandingkan biasanya 120-125 hari. Bahkan padi yang siap panen tidak busuk meskipun terendam air di sawah selama beberapa hari.

Memang, Arqom mengakui penerapan SRI lebih rumit dibandingkan pola konvensional, karena pupuk serta obat pembasmi hama harus disediakan sendiri. Belum lagi, bibit padi sebelum disemai harus direndam dulu dengan larutan kentang selama empat hari, yang juga dibuat sendiri.

Ia mengisahkan ketika pertama kali menerapkan metode ini di lahan sawahnya tahun 2006, para petani di kampungnya menertawakannya. “Kami dibilang petani kurang kerjaan, membuat pupuk dan obat sendiri. Tapi setelah melihat hasilnya, sekarang sudah 17 orang mengikuti cara saya,” tutur Ketua Kelompok Tani Dewi Sri ini.

“Metode ini memang cocok diterapkan di daerah yang sumber airnya sedikit. Oleh karena itu, pemerintah daerah harus lebih gencar memberikan informasi lengkap tentang SRI kepada para petani,” lanjut bapak dari dua anak, Nur Aini (18) dan Muhidin (9) ini.

Serbaorganik

Arqom menjelaskan sebenarnya metode SRI yang ditemukan Henri de Laulanie, Pastor Jesuit (SJ) asal Prancis itu bisa diterapkan di musim apa pun, baik penghujan maupun kemarau. Yang penting diterapkan secara benar. Gunakan larutan kentang rebus untuk merendam bibit padi yang akan disemai di tanah darat yang beralaskan plastik.

Selama menunggu penyemaian 10 hari, sawah dibasahi air secukupnya. Setelah itu, bibit padi yang sudah disemai ditanam satu demi satu sedalam lima sentimeter.

“Penyemaian di tanah darat yang gembur, supaya ketika batang padi dicabut akarnya tidak luka. Oleh karena itu dalam usia tanam 25 hari saja, tanaman padi sudah tumbuh dengan cepat. Berbeda dengan kebiasaan selama ini, ketika tanaman hasil penyemaian degebot (dicabut dan dikibaskan untuk menghilangkan tanah yang menempel di akar), akarnya banyak yang luka,” terangnya.

Seusai penanaman seluruh bibit padi, genangan air yang tersisa di sawah segera dikeringkan dan padi ditaburi pupuk organik. Beberapa hari berikutnya, padi disemprot dengan larutan campuran bawang putih, gadung, dan dedaunan yang istilah lokalnya Johar Lambong. Larutan ini sebagai pengganti obat kimia untuk pengusir OPT.

“Dalam usia 35 hari, satu batang padi bisa beranak 5-6 batang. Hama kresek yang biasanya merusak pangkal batang tidak terjadi, karena diantisipasi dengan berbagai larutan itu sehingga mudah beranak pinak,” ujar Arqom. Untuk bahan pupuk organik, digunakan jerami yang dicampur dengan kotoran kambing.

Ia mengakui selama ini ia belum berani menerapkan metode SRI secara penuh, meski bahan pupuk organik berupa jerami dicampur kotoran ternak cukup melimpah. Pupuk kimia ditaburkan ke sawah beberapa hari sebelum ditanami.

“Sistem SRI ini masih baru bagi kami dan masih uji coba. Pada awalnya, saya mengurangi setengah pupuk kimia, dan mengurangi lagi pada musim tanam selanjutnya. Mungkin musim tanam nanti sepenuhnya menggunakan pupuk organik,” ungkapnya.

Guna memperlancar persedian pupuk organik, kini Arqom bersama 17 temannya yang tergabung dalam Kelompok Tani Dewi Sri, bergotong royong mengolah sendiri pupuk dan larutan pembasmi OPT. Berkarung-karung pupuk yang sudah diolah dimasukkan ke dalam karung dan ditumpuk di lahan seluas 25 m2 di belakang rumah Arqom, yang berbatasan langsung dengan sawah miliknya.

SRI Membawa Arqom ke Istana
Arqom tengah bingung ketika datang Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tanaman (PPOPT) dari Dinas Pertanian Kabupaten Karawang yang sering disebutnya Pak Ndoh. Ia mengungkapkan kegelisahannya soal hama yang tak pernah berhenti menyerang padinya, padahal berbagai cara telah dilakukan termasuk mengikuti anjuran Dinas Pertanian. Pola tanam padi-padi-palawija yang diharapkan dapat memutus mata rantai serangan OPT, tak juga mempan.
Sementara itu, keuangan yang tipis membuatnya semakin tak mampu membeli obat pembasmi hama yang untuk satu botol berisi 250 ml harganya Rp 185.000. Dananya sudah tersedot untuk membeli 1 kuintal pupuk urea dan 3 kuintal pupuk NPK hanya buat satu hektare lahan. Padahal kalau beruntung, hasil panen paling tinggi hanya 5 ton GKP per hektare. Bahkan jika diserang hama hanya 2 ton GKP.
“Ketika sedang bingung itu, Pak Ndoh mengusulkan untuk menanam padi dengan sistem SRI (System of Rice Intensification) karena sistem ini tahan terhadap serangan hama apa pun,” kisah Arqom. Maka tahun 2006 ketika musim kemarau datang, ia mencobanya. Karena khawatir gagal, ia tidak sepenuhnya menggunakan pupuk organik tapi mencampurnya dengan pupuk kimia separoh dari kebutuhan semula.
Hasilnya luar biasa. Serangan OPT yang biasanya terjadi saat usia tanam 30 hari, kali itu tak terjadi, bahkan padi menjadi semakin subur dengan daun lebat menghijau. Begitu pula hasilnya, ia bisa memetik 10 ton GKP (Gabah Kering Panen) untuk satu hektare. Maka kemudian Arqom mengajak kelompoknya untuk menanam padi dengan metoda ini, dan 17 rekannya sudah mengikuti jejaknya mulai musim tanam tahun lalu.
Keberhasilan Arqom ternyata sampai ke telinga Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Pada 11 April 2008 lalu, ia diajak makan siang bersama di Istana Kepresidenan. (wip)

(Suara Karya)

Tentang elfathir

Saya hanya mencoba berbagi manfaat atas apa yang saya ketahui. Tetaplah Tersenyum, Karena Senyuman Membuat Semua Terasa Indah. *Elfathir Fatikhin*
Pos ini dipublikasikan di Kabar Tani. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s