Fanatisme Buta Berujung Petaka

Meninggalnya tiga orang suporter Persija pada laga Indonesia Premier League (IPL) Minggu (27/5) petang Persija Jakarta kontra Persib Bandung di stadion Gelora Bung Karno (GBK) Jakarta, menambah daftar panjang aksi anarki para suporter tim sepakbola di Indonesia.

Ini adalah tragedi kerusuhan suporter untuk kesekian kali terjadi di Indonesia.  Selama bulan Mei ini setidaknya sudah terjadi dua kali kerusuhan yang melibatkan suporter sepakbola.  Pada 13 Mei lalu Kerusuhan suporter pecah di bumi Papua. Kali ini penyulutnya karena tim sepakbola Persipura kalah dari Persija pada pertandingan lanjutan ISL di Stadion Mandala Jayapura, Minggu (13/5/2012) sore.

Kerusuhan pecah selama tiga jam sejak pukul 17.30 sampai 20.30 WIT. Massa merusak fasilitas stadion dan melepari pertugas. Bukan itu saja, setelah keluar massa laslu mambakar kendaraan yang parkir. Satu motor polisi, dua unit mobil Polantas, satu truk TNI, dan satu ambulance rusak parah. Selain itu dikabarkan 18 orang menjadi korban, 3 diantaranya masih anak-anak.

Di tengah minim prestasi di ajang internasional, kompetisi di Tanah Air masih berkutat dengan keributan antar pemain dan suporter. Kerusuhan masih terus mewarnai kompetisi liga di Indonesia.

Mentalitas buruk, fanatisme buta dan penyelesaian kasus kerusuhan yang tidak jelas serta ketidaktegasan sikap Otoritas sepakbola menjadi pemicu beragam kisruh dan rusuhnya persepakbolaan di Indonesia.

Kita terbiasa tidak mau menerima kekekalahan, menganggap setiap berlaga tujuan utamanya adalah kemenangan semata. Superioritas dan merasa dirinya paling hebat dan tak pantas kalah sehingga membuat kita gelap mata.

Fanatisme berlebih tanpa diiringi mentalitas yang tinggi membuat seakan kemenangan adalah segalanya.

Berbeda dengan kompetisi luar negeri. Masih ingat tragedi dalam sepakbola mesir. Otoritas di sana langsung bertindak tegas.

Tragedi itu terjadi di Stadion Port Said. Sebanyak 74 penonton tewas, dan 1.000 orang lebih mengalami luka-luka dalam kerusuhan antar suporter di stadion yang menjadi markas klub Al-Masry tersebut.

Kejadian kelam ini terjadi dalam pertandingan Liga Utama Mesir antara Al-Masry menghadapi Al Ahly, Kamis 2 Februari 2012. Laga itu dimenangkan Al-Masry dengan skor 3-1.

Setelah terjadi kerusuhan, dalam waktu beberapa jam, kepolisian Mesir langsung menangkap 47 orang yang dicurigai sebagai pemicu kerusuhan.

Sementara otoritas sepakbola Mesir, Asosiasi Sepakbola (FA) Mesir memutuskan menunda kompetisi domestik di semua divisi hingga batas waktu yang belum ditentukan. (Elf/Mer)

 

Tentang elfathir

Saya hanya mencoba berbagi manfaat atas apa yang saya ketahui. Tetaplah Tersenyum, Karena Senyuman Membuat Semua Terasa Indah. *Elfathir Fatikhin*
Pos ini dipublikasikan di OLahraga dan tag , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Fanatisme Buta Berujung Petaka

  1. Ping balik: Serena Tersingkir dari Prancis Terbuka | ambangbatas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s