Jamu Jago [1918]

Perusahaan keluarga ini telah menembus pasar lokal dan internasional. Sukses hingga generasi keempat. Di usianya yang sudah menjelang seratus tahun, Jamu Jago mencoba bertahan.

PERISTIWA aneh itu terjadi pada 1917. Seorang pertapa—sebenarnya penampilannya lebih mirip orang gila—tiba-tiba muncul di rumah keluarga Tjoeng Kwaw Suprana di Wonogiri. Malam itu ia minta makan dan mohon diperkenankan menginap.

Esok harinya, si pertapa mengucapkan terima kasih, dan membuka misteri tentang jati dirinya. Ia sebenarnya pangeran Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat yang sedang melakukan tapa ngedan di Gunung Lawu. Di antara rasa takjub yang belum reda, Tjoeng Kwaw Suprana mendengar tamu istimewa itu berpesan agar ia menggunakan nama Jago (ayam jantan, dalam bahasa Jawa).

Pabrik Jamu Jago di Semarang

Waktu itu ia baru saja membuka usaha kecil-kecilan. Mengamati bagaimana ibundanya meracik jamu gendong siap minum, Suprana mencoba membuat terobosan. Racikan ditumbuk, lantas Perusahaan keluarga ini telah menembus pasar lokal dan internasional. Sukses hingga generasi keempat. Di usianya yang sudah menjelang seratus tahun, Jamu Jago mencoba bertahan. dikemas kecil-kecil supaya praktis. Setahun berselang, usaha ini bergerak maju. Saat itulah, 1918, Suprana membubuhkan nama yang dipesankan tamu itu untuk merek jamunya. Usahanya melejit cepat. Pada 1936, Suprana menyerahkan tongkat estafet kepada empat putranya: Anwar Suprana, Panji Suprana, Lambang Suprana, dan Bambang Suprana. Di tangan empat bersaudara itulah Jamu Jago menguasai pasar jamu di eks Karesidenan Surakarta dan sekitarnya. Bahkan, pada 1937, Keraton Surakarta Hadiningrat menetapkan Jamu Jago sebagai jamu resmi istana.

Di depan Pasar Induk Kabupaten Wonogiri di Jalan Raya Wonogiri, Jawa Tengah, yang kini sesak oleh toko itu, pernah berdiri ”kompleks” Djamu Djago. Itulah salah satu bukti kejayaan keluarga Suprana di Wonogiri. Mudjimin, 74 tahun, warga Kampung Gerdu, Kelurahan Giripurwo, Wonogiri, masih ingat bangunan pabrikberada di sebelah selatan pasar. Agak ke selatan lagi ada rumah T.K. Suprana—kini menjadi Markas Komando Distrik Militer Wonogiri. Sedangkan gerai Djamu Djago berada di salah satu deretan toko di seberang pasar induk.

Pada 1949, keluarga Suprana memboyong pabrik ke Semarang. Kota ini dipilih karena posisinya strategis, berada di pusat lalu lintas Pulau Jawa. Ada akses transportasi—darat dan laut—untuk mendatangkan bahan baku jamu dan mengapalkan produk ke luar Jawa dan mancanegara. Toh, kedekatan dengan keraton tetap dijaga. Pabrik kelas rumahan di Wonogiri digeser ke Solo.

Dari Semarang, Jamu Jago masuk ke pasar Bali dan Lampung. Empat tahun kemudian, mereka menembus mancanegara. Misalnya Belanda, Malaysia, Jepang, Australia, Taiwan, dan Vietnam. Pabrik baru—kali ini lebih modern—seluas dua hektare dibangun di Jalan Setiabudi. Mesin-mesin canggih didatangkan dari Amerika. Dibikin pula pusat laboratorium obat dan jamu. Dua sarjana farmasi direkrut. Mereka bertugas menjelaskan khasiat jamu secara ilmiah, bukan hanya mitos.

Kini Jamu Jago dikelola generasi ketiga: Nugraha Suprana, Jaya Suprana, Sindu Suprana, dan Monika Suprana sebagai komisaris. Generasi keempat dipersiapkan untuk melanjutkan dinasti. Ada Arya Suprana sebagai direktur sumber daya manusia dan Ivana Suprana sebagai direktur produksi. Dimotori Jaya, mereka mendirikan Museum Rekor Indonesia yang bersinergi.

Salah satu iklan jamu Jago jaman dulu

SUMIRAH memasukkan satu per satu strip kapsul ke dalam bungkus kertas. Lantas bungkus itu dikemas lagi dengan plastik bening. Sayuri, begitu tulisan yang tertera di dalam kertas pembungkus warna merah. Inilah produk paling gres Jamu Jago, diluncurkan pertengahan 2009. Kapsul ini mengandung sayuran yang dikeringkan. ”Sayuri menjawab keresahan ibu yang anaknya susah makan sayur,” kata Nugraha Suprana, Direktur Pemasaran PT Jamu Jago, kepada Tempo, di Semarang, awal September lalu.

Memasuki usia 91 tahun, pabrik jamu tertua ini gencar berinovasi. Terutama menyasar konsumen anak-anak. Ini dilakukan setelah sukses melempar Buyung-Upik—jamu untuk menambah nafsu makan dan daya tahan tubuh, mengobati cacingan, serta mengusir masuk angin—pada 1994. Nugraha ingat betul 15 tahun lalu orang begitu pesimistis: ”Orang tua saja susah minum jamu, apalagi anak-anak.” Nyatanya, Buyung-Upik menjadi produk andalan.

Pada Awalnya…

Dok. tempointeraktif.com

DI depan Pasar Induk Kabupaten Wonogiri di Jalan Raya Wonogiri, Jawa Tengah, yang kini sesak oleh toko, pernah berdiri toko Djamu Djago. Toko ini bukan toko yang luas. Mudjimin, 74 tahun, warga Kampung Gerdu, Kelurahan Giripurwo, Wonogiri, ingat bangunan sempit memanjang yang kerap dipenuhi pembeli dari kabupaten tetangga. ”Babah Tukang Uang”, begitu Suprana biasa disapa. Ia disegani sebagai warga kelas mapan, mempunyai kereta kuda di antara segelintir orang di Wonogiri yang memilikinya.

Sebagian besar penduduk Wonogiri kaum pendatang. Mungkin hanya warga asli yang sempat melihat ”kompleks” milik Suprana itu, dan Mudjimin salah satu saksi kebesaran Suprana di Wonogiri. Saat itu, ayah Mudjimin—Pawiro—bekerja sebagai penumbuk jamu di pabrik, bersama puluhan warga lain. Saat itu, cara pembuatan jamu masih tradisional. Bahan-bahan ditumbuk menggunakan lesung kayu.

Pawiro berhenti bekerja karena pabrik diboyong ke Semarang, ketika manajemen dipegang anak-anak Suprana. ”Seingat saya setelah clash kedua,” kata Mudjimin. ”Waktu itu saya masih di sekolah rakyat.” Agresi militer Belanda kedua terjadi pada Desember 1949. Teman Pawiro banyak yang ikut hijrah. Mereka pulang ke Wonogiri setahun sekali, pas Lebaran. Konon, kata Mudjimin, pemilik Jamu Jago gemar melakukan kegiatan spiritual.

Misalnya di Gua Siganggo, di bawah Gunung Gandul, Giriwono, Kecamatan Wonogiri. Ia juga kerap nyepi di Mojoroto, satu setengah kilometer dari Kota Wonogiri ke arah timur. Mojoroto terletak di tepian Bengawan Solo. Di
sana Suprana juga memelihara satwa. ”Seperti kebun binatang,” Mudjimin menambahkan, ”orang bebas melihat.” Di lokasi itu sekarang berdiri panti asuhan yang dikelola pemerintah daerah.
Sumber: Majalah Tempo

Tentang elfathir

Saya hanya mencoba berbagi manfaat atas apa yang saya ketahui. Tetaplah Tersenyum, Karena Senyuman Membuat Semua Terasa Indah. *Elfathir Fatikhin*
Pos ini dipublikasikan di Ekonomi, Nasional dan tag , , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Jamu Jago [1918]

  1. Ping balik: Mendapat Penghargaan MURI | ambangbatas

  2. Ping balik: Penonton Berendam di Sungai, Nanoe Biroe Masuk MURI | ambangbatas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s