Kisah Uang Rp 2000

seribu-seratusribu

Siapa orang yang tak butuh uang, sampai-sampai ada yang dengan sadar melakukan perbuatan melawan hukum untuk mendapatkan selembar kertas bernominal tersebut. Bahkan, proyek yang seyogyanya ditujukan untuk kemaslahatan umat-pun tak luput dari penyimpangan yang melibatkan uang tadi.

Yang baru lulus sekolah ingin segera menjadi karyawan agar bisa mendapat uang. Yang bekerja sebagai staf ingin menjadi manajer. Para manajer ingin menjadi direktur, dan seterusnya. Begitu pula para penguasa dan pejabat ingin terus berkuasa.

Padahal kita tahu akhir zaman semakin dekat, akan tetapi kehidupan ini terus dipenuhi oleh manusia yang berlomba mencari kemakmuran materi dan status tertinggi duniawi. Jarang atau bahkan bisa dihitung dengan jari menemukan manusia yang berpikir bagaimana memberi manfaat bagi sesama dalam rangka untuk mengisi tabungan amal sebagai bekal di alam akhirat kelak.

Alkisah
Ada sebuah percakapan menarik antara uang kertas senilai Rp2.000 dengan Rp100.000 yang sama-sama diterbitkan oleh Bank Sentral (Bank Indonesia). Pada saat sama-sama baru dicetak dan dikeluarkan sebelum beredar di masyarakat, kondisi keduanya sama-sama mulus, wangi dan bagus tentunya. Namun, setelah beredar di masyarakat menjadi alat transaksi jual-beli belum tentu nasib keduanya sama. Begitu keluar dari bank, nasib memisahkan kedua uang kertas tersebut. Keduanya nyaris tak bisa bersama-sama lagi, paling banter mereka bertukar posisi atau bertemu-pun hanya bisa saling bertatap muka sekilas saja.

Setelah dua atau empat bulan kemudian, uang kertas Rp2.000 dan Rp100.000 bertemu secara tak sengaja di dalam dompet seorang lelaki paruh baya. Kemudian terjadilah percakapan diantara keduanya.

Rp100.000 bertanya, “Mengapa badanmu begitu kotor, lusuh, dan bau sekali?” Pertanyaan itu dijawab dengan santai oleh Rp2.000, “Karena begitu aku keluar dari bank, aku langsung beredar di tangan orang-orang kecil, seperti pedagang sayur, pedagang kaki lima, tukang becak, buruh pabrik, bahkan para pengemis.” Rp2.000 balik bertanya kepada Rp100.000, “Dan kamu sendiri kenapa badanmu tetap bersih, wangi dan bagus seperti baru pertama keluar dari bang dulu?”

Dengan sedikit sombong Rp100.000 menjawab, “Ya jelaslah, karena begitu aku keluar dari bank, aku langsung digenggam wanita cantik, pejabat tinggi, politisi, peredaranku juga di tempat-tempat mewah seperti mall, hotel mewah, dan keberadaanku senantiasa dijaga pemilik dan aku jarang keluar dari dompet.” Rp2.000 bertanya lagi, “Pernahkah kau mampir ke tempat ibadah atau ke panti asuhan?” Rp100.000 menjawab dengan cepat dan singkat, “Belum pernah.”

Lalu Rp2.000 melanjutkan kata-katanya, “Ketahuilah kawan, walaupun keadaanku lusuh, kotor dan bau, setiap Jum’at aku tak pernah absen di masjid-masjid, di hari minggu aku mampir ke gereja, aku juga tak lupa mampir ke klenteng, wihara, pura, dan bahkan hampir bisa dikatakan aku selalu mampir ke tangan anak-anak yatim.”

Mendengar kisah Rp2.000 yang begitu sarat pengalaman, Rp100.000-pun merasakan ada yang mengalir di kedua pipinya, ya dia menangis karena selama ini dia merasa paling hebat, paling besar, paling tinggi derajatnya dan merasa paling berwibawa, tapi dibandingkan dengan Rp2.000 dia tidak berarti apa-apa, hanya memberi sedikit kesenangan untuk beberapa orang tapi tidak memberi manfaat bagi orang banyak seperti Rp2.000.

Dari kisah di atas kita bisa mengambil hikmah bahwa yang kecil belum tentu tidak bisa berbuat banyak bagi orang lain. Begitupun sebaliknya, yang besar belum tentu bisa memberikan manfaat bagi semua orang. Zaman sekarang dimana makin banyak orang mengejar kesuksesan hidup dan menempatkan dirinya seperti uang pecahan Rp.100.000 yang merasa paling tinggi tanpa peduli seberapa bernilaikah dirinya dalam kehidupan. Setiap orang berusaha keras untuk mencapai kesuksesan adalah sebuah keharusan dan tentunya sangat mulia, tapi janganlah lupa bahwa nilai manusia sesungguhnya bukan diukur dari seberapa banyak materi yang bisa dikumpulkan, akan tetapi nilai itu diukur dari seberapa besar manfaat seseorang bagi sesama serta lingkungannya. Seperti kata-kata bijak Albert Einstein, “Janganlah berupaya menjado orang yang sukses, berusahalah menjadi orang yang bernilai.”(Elf)

@Kalibata, Ngapril 2013

Tentang elfathir

Saya hanya mencoba berbagi manfaat atas apa yang saya ketahui. Tetaplah Tersenyum, Karena Senyuman Membuat Semua Terasa Indah. *Elfathir Fatikhin*
Pos ini dipublikasikan di Renungan dan tag . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Kisah Uang Rp 2000

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s