Dea Valencia Diantara Sukses Berbisnis dan Kepedulian Sosial

dea valencia

Dea Valensia

“Sebaik-baiknya manusia ialah orang yang bermanfaat bagi orang lain”

ElfBlog– Muda, Cantik, Sukses dan Kaya, Yups… kenyataan inilah yang sekarang melekat pada diri Dea Valencia. Dara manis yang masih berusia 19 tahun ini memiliki pendapat milyaran rupiah. Dea Valencia tak pernah mengira dirinya mendapatkan lebih dari keinginannya dalam mengoleksi batik tradisional Indonesia. Pengusaha muda lulusan Universitas Multimedia Nusantara Tangerang itu kini memiliki 36 orang pekerja.

Menariknya, mayoritas dari karyawannya adalah orang-orang penyandang keterbatasan fisik (difabel). Melalui bendera usahanya, Batik Kultur by Dea Valencia, dia mulai menjalankan bisnis sejak tiga tahun yang lalu tatkala Dea menginjak semester 4.

Seperti dilansir Kompas.com,  ia berbagi cerita awal mula usahanya itu. “Sebelumnya tidak ada background membatik ataupun keluarga yang memiliki usaha batik. Saya memilih usaha ini karena hobi dan kecintaan saya terhadap batik Indonesia, yang ditularkan dari ibu saya. Dan juga, keinginan saya untuk mengoleksi batik yang bagus-bagus, tapi enggak ada uangnya,” kata Dea mengawali ceritanya.

Lantaran tak memiliki keahlian membatik sebelumnya, Dea mengaku belajar sambil praktik. Bengkel batik Dea berlokasi di Semarang, Jawa Tengah. Saat ini, ia tengah menyiapkan pembangunan butiknya. Batik-batik Dea dibanderol mulai dari Rp 250.000 hingga Rp 1 juta.

“Mayoritas produk (harganya) Rp 400.000-Rp 600.000,” imbuhnya. Batik-batik Dea dipasarkan melalui media online, juga pameran dagang, baik dalam maupun luar negeri, baik pribadi maupun dukungan pemerintah, seperti dari Kementerian Perdagangan dan Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas).

Pelanggannya saat ini tersebar di seluruh Indonesia maupun luar negeri dengan mayoritas pembeli dari Jakarta untuk Indonesia. Untuk luar negeri, jangkauannya sudah sampai Australia, Amerika Serikat, Inggris, Norwegia, Jepang, Belanda, Jerman, dan banyak negara lainnya.

Lewat media tulisan

Saat memulai usahanya itu, Dea hanya bermodalkan sekitar Rp 50 juta. Kini, setiap bulan ia mampu memproduksi sekira 800 potong pakaian batik. Upah karyawannya dihitung dengan sistem harian dan dibayarkan setiap bulan.

“Hingga saat ini kami telah mempekerjakan 36 karyawan, kebanyakan warga sekitar maupun jebolan dari LPATR (Lembaga Pendidikan Anak Tuna Rungu) kejuruan jahit. Ada juga beberapa anggota kami yang lulusan RC Jebres, Solo,” sambungnya.

Mempekerjakan tunarungu menjadi cerita sendiri bagi perjalanan usaha Dea. Terlebih lagi, para tunarungu itu bekerja di bagian jahit dan potong, meskipun kebanyakan dari mereka adalah lulusan kejuruan jahit.

“Memang awalnya merupakan tantangan bagi saya. Namun, dengan melakukan beberapa penyesuaian dalam proses pengerjaan, kami dapat mengatasi masalah komunikasi dengan memperbanyak komunikasi melalui media tulisan,” jelas Dea.

Tak pernah menunda pekerjaan

Para karyawan di butik batik milik Dea Valencia/Kompas.com

Para karyawan di butik batik milik Dea Valencia/Kompas.com

Bagi Dea, bekerja dan berkomunikasi dengan penyandang disabilitas, seperti Sriwati, Tumisih, Nikmah, dan Ari memberikan banyak sekali inspirasi. Ia pun mengaku takjub dengan semangat para pekerjanya itu.

“Terkadang, kita manusia yang dilahirkan tanpa kekurangan fisik masih suka mengeluh, bikin-bikin alasan, menunda-tunda. Bahkan, saya pun sekarang tanpa sengaja masih kerap melakukannya dengan alasan banyaknya pekerjaan. Ha-ha-ha,” aku Dea.

“Tapi, untuk hal utama yang saya dapatkan dari mereka adalah semangat ketekunan dan semangat ‘harus bisa’,” imbuhnya.

Dia berkisah mengenai cerita lucu sekaligus haru dari beberapa karyawannya. Dea bercerita tentang salah satu karyawannya bernama Ari. Kali pertama bekerja di batik Dea, waktu itu usia Ari baru 17 tahun.

Jarak rumahnya yang cukup jauh dari workshop membuat Ari memilih angkot atau menaiki sepeda onthel tiap kali bekerja. Sekarang, lanjut Dea, Ari sudah mampu mencicil motor sendiri.

“Pertama kali lihat Ari naik motor baru yang dia sangat sayangi, ada perasaan yang tidak bisa tergambarkan,” ucap Dea.

“Ada juga pengalaman dengan pegawai saya yang lain, yaitu Mbak Tumisih. Mbak Tumisih yang tangannya hingga siku saja dan kakinya hingga lutut saja memiliki semangat yang sangat saya kagumi,” kata dia.

Dia menceritakan, mulai dari makan, melepas jahitan, menulis, memasukkan benang ke dalam jarum, hingga mengirim SMS, dia bisa melakukannya sendiri. Demikian juga dengan Sriwati. Gaji pertama Sriwati yang didapatnya dari Dea seluruhnya dikirimkan ke sang ibu yang berada di desa.

“Selain untuk membalas budi kepada ibu, Mbak Sriwati juga ingin membuktikan apabila bisa bekerja dan menghasilkan seperti yang lainnya,” ujarnya.

Terakhir, Dea sangat mengapresiasi tindakan pemerintah yang telah melakukan pembinaan terhadap orang-orang dengan cacat tubuh melalui Balai Besar Rehabilitasi Sentrum Bina Daksa (BBRSBD/RC) Jebres, Solo.”

Beberapa pegawai saya seperti Mbak Sriwati, Mbak Tumisih, dan Mbak Nikmah diberikan pengarahan dan pendidikan untuk dapat menjadi lebih berguna bagi keluarga dan masyarakat,” pungkasnya. (kompas.com)

Tentang elfathir

Saya hanya mencoba berbagi manfaat atas apa yang saya ketahui. Tetaplah Tersenyum, Karena Senyuman Membuat Semua Terasa Indah. *Elfathir Fatikhin*
Pos ini dipublikasikan di Ekonomi, Inspirasi dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s